مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Hukum-Hukum Syari’at

Posted by Salim Abdul Qadir pada 12 Oktober 2009

Hukum Syari’at dibagi menjadi dua bagian :

1.Hukum Syari’at Taklifi.  2.Hukum Syari’at Wadh’i.

Hukum Syari’at Taklifi yaitu : Ketentuan/ yang diminta oleh Alloh Ta’ala yang terikat dengan perbuatan seorang yang sudah dianggap Mukallaf.

Hukum tersebut dibagi menjadi lima bagian, yaitu :

1.Fardhu/ Wajib 2.Sunnah 3.Haram 4.Makruh 5.Mubah.

-Fardhu/ Wajib : secara bahasa, kelaziman/ keharusan. secara Syari’at, apa-apa yang disyari’at dengan keharusan melakukan-nya dan tidak dapat ditawar-tawar lagi kedudukanya.

Fardhu Kifayah : adalah tujuan hukum syari’at dari perbuatan yang wajib dilakukan, namun bila sudah dilakukan oleh muslim yang lain maka kewajiban ini gugur. misal :
-Mensholati jenazah orang Islam.
-Belajar ilmu tertentu (misal : kedokteran, ekonomi, dll).
-Amar ma’ruf nahi munkar.
-Mendirikan Khilafah dll.

Fardhu kifayah, bisa menjadi fardhu ‘ain apabila perbuatan yang dimaksud belum ada ahlinya yang mampu melakukan-nya kecuali seorang Islam saja, maka yang bersangkutan wajib (fardhu ‘ain) untuk melakukan.
Hukumnya, “diberi pahala bagi yang mengerjakan dan akan disiksa oleh Alloh Ta’ala bagi yang meninggalkan”.

Sunnah : secara bahasa, perjalanan/ lintasan. Secara syari’at, apa-apa yang diSyari’atkan dalam Islam tanpa harus melakukan-nya.

Hukumnya, “diberi pahala bagi yang mengerjakan dan tidak berdosa/ disiksa oleh Alloh Ta’ala bagi yang meninggalkan-nya”.

-Harom : secara bahasa,larangan. Secara syari’at,apa-apa yang dilarang dalam syari’at Islam yang tidak dapat ditawar-tawar lagi kedudukan-nya.

Hukumnya, “diberi pahala bagi yang meninggalkan dan akan disiksa oleh Alloh Ta’ala bagi yang melakuk-kan”.

-Makruh : secara bahasa, tidak disukai.Secara syari’at, apa-apa yang dilarang (tidak disukai) menurut syari’at dengan larangan yang bersifat tidak lazim dilakukan.

Hukumnya, “diberi pahala bagi yang meninggalkan-nya dan tidak disiksa oleh Alloh Ta’ala bagi yang melakukan-nya”.

-Mubah : secara bahasa, diperbolehkan. Secara syari’at, apa-apa yang bila ditinggalkan maupun dilakukan kedudukan-nya sama.

Hukumnya, “tidak diberi pahala bagi yang melakukan-nya dan tidak disiksa oleh Alloh Ta’ala bagi yang meninggalkan, terkecuali perbuatan tersebut disertai niat baik, maka akan mendapatkan pahala”.

Hukum Syari’at Wadh’I, yaitu : Ketentuan/ yang diminta oleh Allo Ta’ala dikarenakan sesuatu sebab, persyaratan, larangan, Sah (dibenarkan) dan Fasad (batil/ tidak sah).

Satu Tanggapan to “Hukum-Hukum Syari’at”

  1. Anonim said

    hadis sahnya puasa dengan di suntik?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: