مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Thaharah/ Bersuci

Posted by Salim Abdul Qadir pada 12 Oktober 2009

Bab Thoharoh
Pengertian Thoharoh secara bahasa : kebersihan atau kesucian dari kotoran-kotoran, menghilangkan hadast, najis atau apa-apa yang semakna dengan keduanya.

Secara Makna/ Ma’nawiyah : membersihkan penyakit hati seperti, Sifat Ujub, sombong, hasad dan sifat riya’.

Secara Syari’at :
1.menghilangkan hadast (wudhu’ dan Mandi besar).

2.mebersihkan najis(istinja’ dengan air dan mencuci baju yang terkena najis).

3.Apa-apa yang sederajat dengan menghilangkan hadast, seperti tayammum dan wudu’nya seorang yang terkena hukum darurat.

4.Apa-apa yang sederajat dengan membersihkan najis (istinja’ dengan batu saja), namun bekas najis masih tersisa.

5.Apa-apa yang ada kesamaan dengan menghilangkan hadast seperti mandi sunnah, meperbarui wudu’, membasu tangan kedua dan ketiga kalinya dll (bukan untuk menghilangkan hadast).

6.Apa-apa yang ada kesamaan dengan menghilangkan najis (mebasu kedua dan ketiga dalam mengilangkan najis, karena perbuatan itu belum sepenuhnya menghilangkan najis).

Hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rosululloh SAW, bersabda:

“Allah tidak akan menerima sholat salah seorang dari kalian apabila ia berhadats sampai ia berwudhu.” (H.S.R. Muttafaqun ‘alaihi).

Bab Air
Sebelum membahas tentang tata cara bersuci kiranya perlu mengenal macam-macam air dan pembagainya karena air adalah alat terpenting untuk bersuci. Adapun air yang shah untuk bersuci ada tujuh, yaitu:

1.Air hujan. 2.Air salju. 3.Air embun. 4.Air laut (air asin). 5.Air sumur. 6.Air sungai (air tawar) 7.Air sumber.

Air yang paling Afdhol menurut sebagian besar Ulama’ yaitu: Air yang terpancar dari jari-jari Nabi Muhammad SAW, kemudian Air Zam-zam, Air sungai Alkaustar, Air sungai Nail dan Air sungai-sungai yang lain.

Ditinjau diri segi hukumnya, air dapat dibagi menjadi 4 macam:

1. Air Muthlak: (air yang sewajarnya): yaitu air suci yang dapat mensucikan (thohir wa muthohir lighoirih), artinya air itu dapat digunakan untuk bersuci, misalnya air hujan, air sumur, air laut, air salju dan air embun.

2. Air makruh: yaitu air yang suci dan dapat mensucikan tetapi makruh digunakannya Seperti air yang terlalu dingin atau panas, air Mghdub dan air musyammas (air yang dipanaskan dengan sinar matahari) bila memenuhi segala persyaratan-nya, yaitu: A.Air digunakan masih dalam keadaan panas dari matahari. B.dipergunakan orang yang hidup dan tidak berpengaruh untuk mayyit. C.tempat air terbuat dari kaleng/seng atau sejenisnya. D.dipergunakan di musim panas. E.Di negri yang mempunyai iklim panas. F.Dipergunakan untuk anggota badan dan tidak berpengaruh untuk baju dll. Adapaun dampak penggunanya, dikhawatirkan terkena penyakit Barosh/ kulit menjadi belang, karena air yang terjemur oleh terik matahari mengandung virus penyakit yang mengakibatkan belang.

3. Air suci tetapi tidak dapat digunakan untuk bersuci (thohir wa ghoiru muthohir lighoirih): yaitu air Yang boleh diminum tetapi tidak sah untuk bersuci. contohnya: A. Air Musta’mal, yaitu Air sedikit/ kurang dari dua qullah (kira-kira 60cm x 60cm kubig), yang telah dipakai untuk bersuci walaupun tidak berubah sifatnya. B. Air suci yang tercampur dengan benda suci, seperti air teh, air kopi dan lain sejenisnya.

4. Air Mutanajis: yaitu air yang terkena najis. Air mutanajis, apabila kurang dari dua qullah, maka tidak sah untuk bersuci. tetapi apabila lebih dari dua kulah dan tidak berubah sifatnya (bau, rupa dan rasanya), maka sah untuk bersuci.

Macam-macam Najis dan Tata cara Mensucikan-nya:
Najis secara bahasa artinya kotoran, sedang menurut syara’ berarti yang mencegah sahnya sholat. Najis dapat dibagi menjadi tiga bagian:

1. Najis Mugholadhoh : yaitu najis yang berat yakni yang timbul dari najis anjing dan babi. Cara mensucikannya yaitu, lebih dahulu dihilangkan wujud benda najis itu, kemudian baru dicuci bersih dengan air sampai tujuh kali dan salah satunya dicuci dengan air yang tercampur tanah. Rosululloh SAW, bersabda: “sucinya tempat (perkakas)mu apabila dijilat anjing adalah dengan mencuci tujuh kali, permulaan atau penghabisan diantara persucian itu dicuci dengan air yang bercampur dengan tanah.” (Attirmidi).

2. Najis Mukhoffafah : yaitu najis yang ringan, seperti air kencing bayi laki-laki yang umurnya kurang dari dua tahun dan belum makan apa-apa kecuali air susu ibunya. Cara mensucikan-nya, cukup dengan memercikan air pada tempat atau benda yang kena najis itu sampai bersih. Rosululloh SAW, bersabda : “barang yang terkena air kencing anak perempuan harus dicuci, sedangkan jika terkena air kencing anak laki-laki cukup dengan memercikan air padanya.” (Abu Daud dan Nasa’i).

3. Najis Mutawassithoh : yaitu najis yang sedang, yaitu najis yang lain selain yang tersebut dalam najis ringan dan berat. Seperti: Kotoran manusia atau binatang, air kencing, nanah darah, bangkai (selain bangkai ikan, belalang dan mayat manusia). Najis Mutawassithoh dapat dibagi menjadi dua bagian :

A. Najis ‘aniyah: Yaitu najis yang bendanya berwujud. Cara mensucikannya dengan menghilangkan zat (bendanya) lebih dahulu hingga hilang rasa bau, dan warnanya. kemudian menyiramnya dengan air sampai bersih.

B. Najis hukmiyah: yaitu najis tidak berwujud bendanya, seperti bekas kencing, arak yang sudah kering, cara mensucikannya cukup dengan mengalirkan air pada bekas najis tersebut.

Siwak

Secara makna : Menggosok/ menekan / memijat.

Secara Syari’at: Menggosok gigi dan sekitarnya dengan benda yang kasar.

Keutamaan Siwak.

Beberapa Hadist, tentang siwak. Bahwasanya Rosululloh SAW, bersabda, “Andai saja (menggunakan siwak) tidak memberatkan Ummatku, maka pasti aku wajibkan untuk memakai siwak setiap hendak melaksanakan Sholat…” dalam riwayat yang lain, …. Aku wajibkan Setiap kali hendak berwudhu”. (Bukhori Muslim).

“Siwak itu membersihkan lisan, menyebabkan ridho’nya Alloh dan menjernihkan mata” Alhadist (Bukhori).

“Sholat dua roka’at dengan menggunakan siwak, lebih baik dari pada 70 roka’at tanpa siwak” Alhadist (Daru Quthni fil Afrad).

“Keutamaan orang yang Sholat menggunakan siwak, pahala sholatnya dilipat gandakan 70 kali lipat, dibanding orang yang Sholat tidak menggunakan siwak” Alhadist (Ahmad dan Alhakim).

Beberapa keutamaan orang yang memakai siwak
Menambah kecerdasan akal, memperkuat hafalan, menambah kefasihan, menjernihkan penglihatan, mempermudah sakaratul maut, menjauhkan musuh, melipat gandakan pahala, memperlambat penuaan, mengharumkan nafas, menghilangkan kotoran gigi, memperkuat gusi, membersihkan saluran tenggorokkan, menurunkan ridho’ Alloh, memutihkan gigi, mewarisi kekayaan dan kemudahan, menghilangkan rasa pening dan ketegangan urat kepala, menyehatkan pencernaan dan menguatkannya, membersihkan hati, dan paling utamanya adalah mengingatkan Syahadat disaat sakaratul Maut.

Kayu siwak yang dimaksud dalam Hadist tersebut, banyak terdapat di timur tengah, khususnya dari kota Makkah dan Madinah Almunawwarah, yang didapati dari pohon Arok, yang tidak akan pernah habis kayunya andai saja seluruh ummat Islam yang ada di bumi ini setiap hari menggunakan siwak.
Apabila sulit mendapatkan kayu arok, dapat digantikan dengan tangkai pohon kurma, pohon zaitun, atau semua kayu sejenisnya yang mempunyai aroma.
Penggunaan kayu selain kayu arok untuk siwak tetap mendapatkan pahala sunnah memakai siwak, hanya saja tidak mendapatkan khasiat tambahan sesuai keutamaan yang dimiliki kayu arok.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa kayu zaitun memiliki khasiat yang sama dengan kayu arok.

Cara memegang siwak
Siwak di pegang pada tangan kanan, dengan posisi jari manis berada di bawah kayu siwak, sedangkan jari kelingking, tengah dan telunjuk berada di atas kayu siwak. Ibu jari berada di bawah kayu siwak bagian ujung (sikatnya)

Cara menggunakan siwak
Pegang kayu siwak seperti keterangan sebelumnya, tegak lurus ke arah gigi (bukan miring seperti memakai sikat gigi) dimulai dari sisi kanan gigi, ke kiri dan kembali lagi ke kanan sebanyak dua atau tiga kali goresan.
Mulai dari gigi atas kemudian gigi bawah, juga bagian dalam gigi atas dan gigi bawah.

Ukuran siwak
Disunnahkan tidak melebihi satu jengkal dan tidak kurang dari empat jari.

Salim Syarief MD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: